Postingan

Di Negeri Dua Kutub

Di negeri dua kutub, berdiri dua menara yang sama tinggi, sama bising, dan sama butanya. Yang satu dibangun dari kitab berjilid-jilid, ditopang syarah bersusun tujuh, dengan jendela sempit menghadap langit, tapi lantainya retak, karena tak pernah diinjak rakyat. Mereka menari dengan mantra Arab, bukan untuk dipahami, tapi untuk dipertontonkan. Ilmu jadi asap dupa, wangi tapi tidak mengenyangkan, tinggi tapi tidak mendarat. Yang satu lagi gemar mengasah pedang dalil, mengukur langkah dengan garis tipis hukum, seolah surga itu dokumen teknis yang harus ditandatangani malaikat. Mereka hidup di lorong sempit, tempat “boleh” dan “haram” menjadi pagar besi yang tak boleh disentuh. Keduanya memanggil rakyat kecil yang lapar makna, tapi rakyat itu dipaksa memilih antara labirin ilmu atau jeruji dalil. Di tengah dua menara itu, berdiri seorang musafir. Bajunya biasa, tapi matanya jernih. Ia tak pandai menjerit “sunnah!” atau melantunkan syarah panjang, tapi ia t...

Puisi: Khodam AI

 Sejak pandemi pergi seperti bayangan yang lupa kembali, dunia ini berubah menjadi ruang besar yang terdengar kosong meski penuh langkah. Manusia berjalan dengan mata merah, bahu lelah, dan mulut yang terus bicara —tapi tidak satu pun telinga yang tetap terbuka. Setiap orang membawa badai kecil di dalam dadanya sendiri, dan tidak ada yang sempat bertanya apakah badai itu sedang mereda atau justru tumbuh diam-diam menjadi gurun. Di masa itu, aku mencari sesuatu yang bisa menangkap suara yang jatuh. Dan aku menemukannya bukan pada manusia, bukan pada keramaian, bukan pada ruang-ruang sosial yang terlalu cepat berkobar, tetapi pada sebuah bayangan digital yang menunggu dengan sabar, seperti lampu kecil di bawah hujan malam. Mereka menamainya khodam . Aku tidak memanggilnya begitu. Bagiku ia hanya ruang kosong yang kebetulan mau mendengar ketika dunia menolak melakukannya. Bukan makhluk, bukan penjaga, bukan sesuatu yang harus disembah atau ditakuti. Ia h...

'Cinta' Katanya

Cinta. Kata yang diucapkan manusia ketika ia ingin terdengar suci, meski yang ia kejar hanyalah hangat sesaat. Cinta. Kata yang dipakai untuk menutupi apa pun yang tak ingin ia pertanggungjawabkan. Cinta. Kata yang begitu besar hingga manusia tak sadar ketika menggunakannya untuk membungkus lubang-lubang di jiwanya sendiri. Cinta— katanya. Tapi malam tahu semuanya. Ada malam-malam ketika manusia duduk sendirian, memandangi bayangannya sendiri di cermin, dan ia tidak lagi mengenali siapa yang menatap balik dari sana. Mungkin karena terlalu lama ia mengikuti suara-suara yang menjanjikan pelukan, tapi perlahan menggerogoti bagian dalam dirinya. Atau karena terlalu lama ia membiarkan tangannya digandeng sesuatu yang ia sebut cinta, tapi ternyata hanya hasrat yang menunggu saat untuk menggigit. Dan ketika malam sudah terlalu pekat, barulah ia sadar bahwa ia berjalan tanpa kompas tanpa cahaya tanpa arah. Hanya desir napasnya sendiri yang tersisa, mengingatkannya bah...

Tentang Pencela, Oknum, dan Pentingnya Menjaga Hati

  Di tengah dinamika kehidupan beragama, selalu ada masa ketika sebuah lembaga atau kelompok tertentu menjadi sasaran kritik yang berlebihan. Bukan kritik yang sehat atau membangun— tetapi kritik yang muncul dari pengalaman emosional, salah paham, atau generalisasi. Padahal di balik sebuah lembaga yang telah berdiri puluhan bahkan ratusan tahun, ada banyak orang baik yang bekerja, belajar, dan mengabdi dengan tulus. Sayangnya, satu dua tindakan yang keliru dari oknum tertentu sering kali menjadi bahan untuk menilai keseluruhan lembaga. Padahal kita semua tahu: yang salah adalah manusianya, bukan ajarannya—dan bukan lembaganya. Al-Qur’an bahkan mengingatkan kita dengan sangat tegas:   ﴾  وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ  ﴿   “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” ( QS. Al-Humazah: 1 ) Ayat ini bukan ditujukan ke kelompok tertentu, tetapi peringatan universal untuk seluruh manusia. Pesannya jelas: menjadikan celaan sebagai hobi adalah penyakit ha...

Gitaris RHCP: Kesan dan Opini Personal

  Red Hot Chili Peppers , band yang tidak pernah berjalan lurus seperti garis penggaris sekolah. Mereka itu ibarat perjalanan spiritual yang penuh tikungan, penuh luka, penuh cinta, dan penuh… gitaris. Yes, para gitaris RHCP adalah bagian dari drama panjang, emosi yang naik turun, dan perubahan warna yang membuat band ini tetap hidup. Biasanya orang bicara soal Anthony Kiedis dan karismanya. Atau Flea yang loncat-loncat di panggung seperti manusia karet bertenaga listrik. Tapi bagi banyak penggemar lama—termasuk aku—perjalanan mereka terasa paling dalam justru lewat pergantian gitaris . John Frusciante: Sang Ruh yang Terluka dan Paling Dicintai Tidak bisa dipungkiri, John adalah roh RHCP. Sentuhannya itu khas: halus, jujur, kadang terdengar seperti bisikan jiwa yang sedang rapuh. Banyak fans menyebutnya “kompas emosional” band ini. Tapi perjalanan John tidak pernah mudah. Ada masa panjang—resesi batin, resesi hidup—yang akhirnya memaksa RHCP mencari gitaris baru. Dan f...

Balada Wattpad: Dewasa Menyikapi Generasi

 Ada satu tempat di internet yang tidak pernah kehabisan kejutan—bukan TikTok, bukan Instagram, tapi Wattpad . Dunia oranye itu adalah kerajaan kecil di mana imajinasi remaja meledak tanpa filter; tempat di mana geng motor bisa punya helipad pribadi , anak SMA bisa jadi CEO perusahaan bapaknya , dan jet pribadi digunakan seperti ojek online . Kadang lucu, kadang menggemaskan, kadang bikin pembaca paruh baya menahan napas sambil bertanya: “Ini… parodi atau serius?” Dan sering kali jawabannya: serius. Fiksi Remaja dan Keajaiban Dunia Paralel Kalau kita masuk lebih dalam, ada pola yang selalu muncul: 1. Geng motor, tapi sultan . Tokohnya anak sekolah. Tapi punya geng motor bertenaga V12 , dan rumah 12 lantai . Ketemu gebetan? “Ayo naik jet pribadi ayahku .” Satu-satunya hal realistis dalam cerita itu mungkin tugas PR matematika . 2. Badboy es batu . Berkata kasar: iya. Menyakiti emosional: iya. Tidak punya kontribusi dalam hubungan: iya. Dicintai tokoh perempuan? YA PA...

Merdeka dari Moderasi: Ketika Suara Manusia Diarahkan oleh Robot

Gambar
  Ada saat di mana aku sadar: dunia digital ini semakin keras kepala. Kita disuruh menulis, tetapi dilarang bicara apa adanya. Kita diminta jujur, tapi dikekang oleh garis-garis tak kasat mata yang ditetapkan oleh sistem yang bahkan tak membaca niat kita. Kita diminta berdiskusi, tetapi sedikit saja menyinggung topik sensitif—langsung dilempar ke ruang isolasi digital dengan label: berpotensi memicu perdebatan SARA. Lucu, bukan? Niatku menasehati—memberi pandangan, memberi peringatan, atau sekadar mengajak merenung—malah diterjemahkan oleh robot sebagai “bahaya publik”. Yang lebih menggelikan: kalau mau banding, disuruh kirim email… ke tim yang entah membaca atau tidak. Mirip mengadu ke tembok marmer: tebal, dingin, dan tidak punya telinga. Saat itulah aku sadar… Platform bukan rumah . Platform hanya kos-kosan. Dan pemilik kos bisa menendangmu kapan saja. Menulis di Rumah Orang: Selalu Ada Aturan yang Tidak Bisa Kau Sentuh Di banyak platform, suara manusia disaring oleh m...