Balada Wattpad: Dewasa Menyikapi Generasi
Ada satu tempat di internet yang tidak pernah kehabisan kejutan—bukan TikTok, bukan Instagram, tapi Wattpad. Dunia oranye itu adalah kerajaan kecil di mana imajinasi remaja meledak tanpa filter; tempat di mana geng motor bisa punya helipad pribadi, anak SMA bisa jadi CEO perusahaan bapaknya, dan jet pribadi digunakan seperti ojek online.
Kadang lucu, kadang menggemaskan, kadang bikin pembaca paruh baya menahan napas sambil bertanya:
“Ini… parodi atau serius?”
Dan sering kali jawabannya: serius.
Fiksi Remaja dan Keajaiban Dunia Paralel
Kalau kita masuk lebih dalam, ada pola yang selalu muncul:
1. Geng motor, tapi sultan.
Tokohnya anak sekolah. Tapi punya geng motor bertenaga V12, dan rumah 12 lantai. Ketemu gebetan? “Ayo naik jet pribadi ayahku.” Satu-satunya hal realistis dalam cerita itu mungkin tugas PR matematika.
2. Badboy es batu.
Berkata kasar: iya.
Menyakiti emosional: iya.
Tidak punya kontribusi dalam hubungan: iya.
Dicintai tokoh perempuan? YA PASTI.
Karena wajahnya “setampan dewa Yunani” dan “auranya gelap seperti masa lalu”.
Mirip kulkas 2 pintu, tapi disembah.
3. Fanfiction Idol yang dipelintir aneh.
Ada idol boygroup yang di dunia nyata santun, pemalu, penuh senyum.
Tapi begitu masuk Wattpad?
Tiba-tiba berubah jadi makhluk… ya, begitulah… yang tidak pantas dibaca kalau lampu kamar terang.
Idol dunia nyata sedang konser,
Idol versi Wattpad sedang… kegiatan lain, no further comment.
4. Novel pseudo-filosofis yang sebenarnya hanya yapping simulator.
Ada cerita yang seolah ingin dalam. Ingin bijaksana. Ingin eksistensial.
Tapi isinya hanya:
“Matahari terbit. Aku menyeduh kopi. Aku menatap jendela. Aku bernapas.
Lalu aku merenung tentang kehidupan. Dan aku merenung lagi.
Lalu aku merenung lebih keras.”
Tidak ada plot.
Tidak ada world building.
Tidak ada konflik.
Hanya renungan tak berkesudahan yang dibungkus dengan kata-kata puitis: versi remaja yang baru menemukan kata “absurd”.
Ketika Aku Mengutarakan Keresahan Itu…
Karena saking gemasnya, aku lemparkan keresahan ini di sebuah grup.
Dengan harapan ada diskusi sehat.
Atau minimal, tawa kecil sesama pembaca yang juga pernah mengalami “jomplang ekspektasi” dari karya-karya ajaib itu.
Tapi apa yang kudapat?
Omelan massal.
“Bang, menulis itu capek!”
“Bang, kami menulis GRATISAN!”
“Bang, jangan meremehkan usaha penulis pemula!”
Padahal aku sama sekali tidak meremehkan.
Aku hanya… geleng-geleng sambil tertawa kecil.
Menulis gratisan bukan alasan untuk menolak kritik.
Dan mengkritik bukan berarti membenci.
Yang lucu: mereka menuduhku caper bikin rage bait—sementara mereka sendiri sedang caper minta dikasihani. Begging for pity.
Iya, kadang internet itu ironi berjalan.
Tapi Sudahlah, Waktu Juga Guru yang Kejam Tapi Adil
Besoknya, aku diam saja.
Tidak kusahut, tidak kubahas.
Karena aku tahu satu hal pasti:
Cringe masa muda itu tidak bisa diselamatkan—hanya bisa ditertawakan di masa depan.
Suatu hari, mereka akan membuka kembali tulisan lama mereka.
Akan membaca dialog yang berbunyi:
“Aku menatap rembulan dengan tatapan penuh luka masa lalu.”
Atau:
“Dia badboy. Dia kasar. Dia menyakitiku. Tapi aku cinta. Karena hatinya dingin seperti kulkas, tapi hangat seperti kompor.”
Dan ketika mereka membaca ulang itu di usia dewasa?
Yap.
Mereka akan bergidik, menutup muka, lalu berkata pada diri sendiri:
“Astaga… ini dulu aku yang nulis?”
Dan mungkin… mungkin di situlah proses belajar yang paling jujur dimulai.
Kita semua pernah cringe.
Hanya bedanya: ada yang sudah melewati fase itu, dan ada yang sedang menjalaninya.
Komentar
Posting Komentar