Wasiat Terakhir untuk NU: Sebelum Tenggelam oleh Euforianya Sendiri

Wahai ormas yang sepuh, yang kami hormati.
Engkau lahir dari rahim perjuangan, dari darah para kiai yang ikhlas, dari tangan-tangan santri yang mencintai ilmu.
Engkau adalah pelita di tengah kegelapan bangsa, benteng terakhir Ahlussunnah wal Jama’ah yang menolak ekstremisme dan kebodohan.
Tapi di setiap kejayaan, selalu ada potensi kelalaian.
Dan kelalaian itu kini mulai terasa.

Yang kami khawatirkan bukan kehancuran fisik, tapi runtuhnya kepercayaan umat.
Dan ketika umat berhenti percaya pada ulama, maka Islam perlahan kehilangan wajah yang dipercayai masyarakat.


Toleransi yang Melampaui Batas

Toleransi memang perintah Allah,
tapi bukan tanpa batas.

Allah berfirman:

"لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ"
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
(QS. Al-Kafirun [109]: 6)

Ayat ini bukan seruan untuk mencampur keyakinan,
tetapi garis tegas bahwa akidah harus tetap dijaga dalam bingkai damai tanpa harus larut.

Namun kini, sebagian dari kalian memperluas makna toleransi hingga mencairkan prinsip:
hadrah di gereja, majelis bersama pelaku maksiat, figur yang secara terang melanggar adab majelis,
semuanya dibungkus kata “hikmah.”
Padahal, hikmah tanpa batas adalah fitnah yang berbalut senyum.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"من أرضى الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس"
“Barang siapa berusaha mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah,
maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka padanya.”

(HR. Tirmidzi, no. 2414)

Toleransi yang mengorbankan prinsip bukan kebijaksanaan,
tapi kepengecutan yang dibungkus kesopanan.


Seremoni yang Menenggelamkan Makna

Pesantren dulu hidup karena ruh tafaqquh fiddin (pendalaman agama),
bukan karena banyaknya panggung dan sorotan kamera.
Namun kini, ilmu sering dikalahkan oleh seremoni.
Syarah kitab berjilid dibaca, tapi maknanya tak lagi membumi.
Fiqih yang harusnya menjadi cahaya justru terjebak dalam rutinitas simbolik.

Allah sudah mengingatkan:

"يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ"
“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Ilmu itu cahaya, bukan atribut.
Dan jika ia tidak lagi meninggikan derajat moral,
maka ia hanya jadi hafalan kosong yang tidak mengubah perilaku.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan:

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
(Ihya’ Ulumiddin, 1/33)

Ilmu yang tidak melahirkan akhlak akan melahirkan kemunafikan intelektual.
Dan di titik itu, pesantren berhenti menjadi taman ilmu,
dan berubah menjadi panggung seremonial yang kehilangan ruh.


Dari Khidmah Menjadi Kultus

Khidmah yang sejati adalah pelayanan dari hati.
Tapi bila khidmah dijadikan alat menundukkan nalar, itu bukan lagi pengabdian,
melainkan kultus terselubung.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

"لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق"
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Sang Pencipta.”
(HR. Ahmad, no. 1098)

Artinya, tidak ada manusia yang layak ditaati secara mutlak,
bahkan meski ia bersorban, bergelar kiai, atau memegang jabatan tinggi.
Ketaatan hanya sah jika tunduk pada kebenaran, bukan pada figur.

Sayyidina Umar bin Khattab berkata:

“Barang siapa meninggikan seorang alim karena kedudukannya,
bukan karena ilmunya, maka ia telah menolong dalam menghancurkan agama.”

Kalimat itu kini terasa sangat relevan.
Ketika ulama dipuja bukan karena ilmu dan keteladanannya,
tapi karena posisinya dalam struktur dan akses ke kuasa.


Sebelum Tenggelam

NU adalah warisan besar.
Ia lahir dari darah para ulama pejuang, bukan hasil propaganda.
Tapi warisan sebesar ini hanya bisa bertahan jika dijaga dengan kejujuran dan keberanian.

Kami tidak menginginkan NU hancur,
tapi kami ingin NU pulih — dengan introspeksi, dengan membersihkan diri dari pengkhianatan moral, dari liberalisme yang membingungkan, dan dari politik yang menggerogoti akhlak.

Karena jika kepercayaan umat hancur,
maka NU takkan runtuh karena musuh dari luar,
melainkan karena korosi dari dalam.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

"إن الله لا يقبض العلم انتزاعاً ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء"
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dari manusia,
tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.”

(HR. Bukhari no. 100, Muslim no. 2673)

Dan sungguh, lebih menakutkan daripada wafatnya ulama adalah
ketika ulama masih hidup, tapi ilmunya telah mati dalam dirinya.

Marwah yang Tergerus oleh Emosi Massa

Satu hal yang mulai tampak di tubuh NU hari ini adalah menyusutnya marwah, terutama ketika kekuatan massa lebih sering dijadikan reaksi ketimbang refleksi.
Benar, NU adalah ormas besar dengan basis jamaah yang luas dan kuat.
Tapi kekuatan itu akan kehilangan kehormatan bila diarahkan tanpa kesadaran, tanpa kedewasaan, dan tanpa nilai ilmu.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan pola yang mengkhawatirkan:
NU seolah semakin berbaur dengan masyarakat awam yang tidak lagi paham marwah dan batas adab.
Mereka mudah digerakkan oleh emosi, bukan oleh hujjah.
Kritis sedikit disebut menghina ulama, mengingatkan sedikit dituduh anti-NU.
Ketika sebuah kritik muncul di media, reaksi yang keluar bukan argumentasi, tapi pengerahan massa.

Kita melihat pasukan Banser — yang seharusnya menjadi simbol pengabdian dan penjaga kehormatan umat — justru sering tampil bak tentara-tentaraan, menonjolkan kekuatan fisik alih-alih keteduhan moral.
Mereka bukan lagi penjaga nilai, tapi tameng dari rasa sakit hati para elite.

Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:

"ليس الشديد بالصرعة، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب"
“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat,
tapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Marwah tidak tumbuh dari jumlah massa, tapi dari akhlak dan kedewasaan.
Dan ketika reaksi kasar dibalas dengan kebanggaan, maka yang tersisa bukan perjuangan, tapi pertunjukan.

Antara Militansi dan Kedewasaan

Militansi memang ciri khas NU — semangat yang luar biasa, loyalitas yang nyaris tanpa syarat.
Namun ketika militansi tidak diimbangi ilmu dan kebijaksanaan, ia akan bergeser menjadi dogma.
Dan dogma adalah kuburan bagi pemikiran kritis.

NU tidak boleh jatuh pada jebakan cult of organization, di mana anggota merasa suci hanya karena bergabung.
Karena sejatinya, kebesaran NU tidak diukur dari banyaknya massa, tapi dari kemampuan moralnya untuk menuntun bangsa dengan adab dan logika.

Kritik dari media seperti Trans7, atau siapa pun, seharusnya tidak dihadapi dengan amarah dan pengerahan barisan.
Kalau memang tuduhan itu salah, bantahlah dengan dalil, data, dan akhlak.
Kalau benar, terimalah dengan lapang dada, karena kritik yang menyakitkan adalah bentuk kasih sayang yang tidak dibungkus sanjungan.


Islam Tidak Butuh Tentara Ego

Umat sedang haus teladan, bukan tontonan.
Ketika masyarakat melihat ormas yang lebih sibuk mempertahankan gengsi daripada marwah, mereka tidak lagi melihat Islam sebagai rahmat, tapi sebagai kekuasaan.
Dan di situlah agama mulai kehilangan keindahannya di mata generasi muda.

Islam bukan untuk unjuk otot.
Islam adalah jalan yang mengajarkan keberanian berpikir, bukan keberanian menindas.
Dan NU, dengan segala sejarah sucinya, harus kembali menjadi rumah ilmu, bukan arena ego.

Penutup: Cinta yang Tidak Mau Diam

Kritik ini bukan kebencian, tapi cinta yang ingin NU kembali ke akarnya:
tawadhu yang tidak mematikan akal,
khidmah yang tidak menindas,
dan ilmu yang tidak dikorbankan demi panggung politik.

Karena Islam tidak butuh euforia,
ia butuh akhlak, keberanian, dan kejujuran.

Jika suara kami terdengar keras, itu bukan karena kami benci,
tapi karena kami tidak mau melihat NU yang kami cintai
tenggelam oleh euforianya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Virus Mining Kripto 'XMRIG', Ketika PC-ku Dipanen Diam-diam

BLOGGER 2025