Surat untuk Kawan
Ada masa di mana aku percaya, kita semua tumbuh dalam lingkaran yang sama—berangkat dari tanah pesantren, berbagi gelak tawa di serambi, menanggung lelah hafalan, dan pulang dengan memori yang kadang masih menempel di pakaian. Aku dulu yakin, persahabatan yang ditempa di sana akan tumbuh jadi sesuatu yang tetap, meski kita berjalan ke arah yang berbeda.
Namun waktu punya cara yang halus tapi kejam untuk membuka tabir.
Ia tidak berteriak, ia hanya menunjukkan siapa yang tetap tinggal dan siapa yang ternyata hanya bayangan di keramaian.
Kawan, aku tidak pernah menuntut banyak.
Tidak pernah memintamu datang dari jauh untuk acara besar.
Yang kuharapkan hanyalah sedikit perhatian dalam bentuk paling sederhana:
tatkala aku mengundangmu, engkau hadir; tatkala aku butuhmu, engkau menoleh.
Nyatanya, itu terlalu mahal.
Aku melihat bagaimana engkau dan yang lain dengan gagah berangkat ke utara, ke selatan, ke barat, ke mana pun demi reuni besar, haul masyayikh, atau pertemuan berlabel nostalgia.
Aku lihat kalian tersenyum di foto, meneriakkan kembali kata “ukhuwah”, “kebersamaan”, “solidaritas” seolah itu prinsip yang kalian hidupi tiap hari.
Tetapi ketika undanganku datang hanya sebagai ajakan seorang teman, bukan keramaian, bukan event besar—di situlah aku mengerti.
Aku tidak berada di daftar itu.
Aku tidak menjadi prioritas itu.
Aku bukan bagian dari definisi “ukhuwah” kalian.
Dan aku akhirnya belajar satu hal:
Kebersamaan yang lahir dari keramaian hanya kuat ketika lampu-lampu menyala, ketika orang banyak, ketika suasana menggairahkan.
Namun kebersamaan yang sejati hanya teruji saat tidak ada panggung—saat hanya ada seorang kawan yang mengetuk pintu.
Kawan, aku tidak marah.
Tidak juga mendendam.
Aku hanya berhenti berharap.
Aku memilih menyimpan tenagaku, menghemat ongkosku, dan melangkah dalam tenang.
Karena ternyata, sunyi jauh lebih jujur daripada keramaian palsu.
Dan meski jalanku kini berbeda, aku tetap berdoa:
semoga engkau menemukan orang-orang yang memperlakukanmu dengan perhatian yang dulu tidak sempat engkau beri untukku.
Dengan hormat,
Seseorang yang pernah menganggapmu rumah.
Komentar
Posting Komentar