Di Negeri Dua Kutub

Di negeri dua kutub,

berdiri dua menara yang sama tinggi,
sama bising,
dan sama butanya.

Yang satu dibangun dari kitab berjilid-jilid,
ditopang syarah bersusun tujuh,
dengan jendela sempit menghadap langit,
tapi lantainya retak,
karena tak pernah diinjak rakyat.

Mereka menari dengan mantra Arab,
bukan untuk dipahami,
tapi untuk dipertontonkan.
Ilmu jadi asap dupa,
wangi tapi tidak mengenyangkan,
tinggi tapi tidak mendarat.

Yang satu lagi gemar mengasah pedang dalil,
mengukur langkah dengan garis tipis hukum,
seolah surga itu dokumen teknis
yang harus ditandatangani malaikat.
Mereka hidup di lorong sempit,
tempat “boleh” dan “haram”
menjadi pagar besi yang tak boleh disentuh.

Keduanya memanggil rakyat kecil
yang lapar makna,
tapi rakyat itu dipaksa memilih
antara labirin ilmu
atau jeruji dalil.

Di tengah dua menara itu,
berdiri seorang musafir.
Bajunya biasa,
tapi matanya jernih.
Ia tak pandai menjerit “sunnah!”
atau melantunkan syarah panjang,
tapi ia tahu satu hal:
kebenaran tak butuh panggung,
dan agama tidak lahir untuk dipeluk kelompok,
tapi untuk memanusiakan manusia.

Musafir itu berjalan sendirian,
melewati massa fanatik yang mudah marah,
melewati santri yang hafal kalimat
tapi lupa makna,
melewati prajurit dalil
yang kehilangan belas kasih.

Ia tersenyum getir,
menatap dua menara yang saling mengejek,
padahal keduanya sedang roboh
di sisi yang berbeda.

Lalu ia berbisik,
lebih kepada angin daripada manusia:

“Yang satu terbang terlalu tinggi,
hingga lupa tanah.
Yang satu merangkak terlalu rendah,
hingga lupa langit.
Keduanya lupa berdiri.”

Dan angin membawa bisikan itu
kepada siapa pun yang masih mau mendengar.

Karena di negeri dua kutub,
yang paling sunyi
justru yang paling waras.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Virus Mining Kripto 'XMRIG', Ketika PC-ku Dipanen Diam-diam

BLOGGER 2025

Wasiat Terakhir untuk NU: Sebelum Tenggelam oleh Euforianya Sendiri