'Cinta' Katanya
Cinta.
Kata yang diucapkan manusia ketika ia ingin terdengar suci,
meski yang ia kejar hanyalah hangat sesaat.
Cinta.
Kata yang dipakai untuk menutupi
apa pun yang tak ingin ia pertanggungjawabkan.
Cinta.
Kata yang begitu besar
hingga manusia tak sadar ketika menggunakannya
untuk membungkus lubang-lubang di jiwanya sendiri.
Cinta—
katanya.
Tapi malam tahu semuanya.
Ada malam-malam ketika manusia duduk sendirian,
memandangi bayangannya sendiri di cermin,
dan ia tidak lagi mengenali siapa yang menatap balik dari sana.
Mungkin karena terlalu lama ia mengikuti suara-suara yang menjanjikan pelukan,
tapi perlahan menggerogoti bagian dalam dirinya.
Atau karena terlalu lama ia membiarkan tangannya digandeng sesuatu
yang ia sebut cinta,
tapi ternyata hanya hasrat yang menunggu saat untuk menggigit.
Dan ketika malam sudah terlalu pekat,
barulah ia sadar bahwa ia berjalan
tanpa kompas
tanpa cahaya
tanpa arah.
Hanya desir napasnya sendiri yang tersisa,
mengingatkannya bahwa ia masih hidup—
atau mungkin hanya nyaris.
Ada cinta yang membawa terang.
Tapi ada cinta lain yang datang seperti kabut:
diam, memeluk,
lalu menutup semua pandangan tanpa memberi apa-apa kembali.
Kabut itu hangat di awal,
menenangkan,
menghipnotis.
Tapi lama-kelamaan,
kabut itu menghilangkan jarak antara diri dan jurang,
antara langkah dan kehancuran.
Dan manusia…
seperti biasa, terlalu mudah percaya pada hal-hal yang membuatnya lupa sepi.
Kadang ia menyebut kabut itu penyelamat,
padahal kabut itu hanya menunda kenyataan
sampai kenyataan itu akhirnya menerkamnya dari belakang.
Hawa nafsu itu pintar.
Ia tahu bagaimana cara berjalan seperti manusia,
berbicara seperti kasih,
menyusun kata-kata seperti seorang penyair yang sedang jatuh cinta.
Ia mendekat pelan,
seolah menjadi sahabat yang paling setia.
Ia membisikkan kalimat-kalimat manis
yang membuat manusia merasa dipahami,
dianggap,
diselamatkan.
Dan di saat manusia merasa aman,
ia menyingkap topengnya,
menampakkan wajah asli yang kosong,
dingin,
dan lapar.
Tapi saat itu,
sudah terlambat untuk mundur.
Karena sebagian jiwa manusia itu
sudah digigit,
sudah disedot,
sudah diubah menjadi sesuatu yang ia sendiri takut untuk mengakui.
Di suatu titik,
ada orang-orang yang mencoba berbicara:
dengan lembut, dengan hati-hati,
dengan harapan bahwa kata-kata bisa menjadi tali
yang menahan seseorang agar tidak jatuh lebih dalam.
Tapi orang yang sedang tenggelam
sering mengira tangan yang menolong itu
adalah tangan yang ingin mendorongnya lebih ke dasar.
Ia menolak,
menyerang,
membalikkan kata-kata,
menuduh orang yang peduli sebagai musuh,
menyebut nasihat sebagai penghinaan.
Karena bagi orang yang sedang berjalan di lorong gelap,
cahaya hanyalah hal yang menyakitkan mata.
Ia butuh waktu.
Atau kehancuran.
Atau keduanya.
Ada rahasia yang hanya diketahui oleh malam,
tentang tubuh yang lelah berjalan dalam labirin pilihan,
tentang hati yang berbisik tanpa suara,
tentang badai kecil yang tumbuh dari satu keputusan yang dulu tampak tidak berbahaya.
Dan malam tidak pernah menghakimi.
Malam hanya mengamati
bagaimana manusia sering melukai dirinya sendiri
dengan percaya bahwa apa pun yang membuatnya hangat sesaat
pasti adalah cinta.
Padahal ada hangat yang menipu,
yang datang dari api kecil yang pelan-pelan membakar dasar rumah
tanpa manusia sadar bahwa ia sedang kehilangan tempat pulang.
Di akhir kisah,
manusia selalu kembali pada dirinya sendiri—
pada luka yang ia simpan,
pada keputusan yang ia sembunyikan,
pada bayangan yang ia biarkan tumbuh besar di belakangnya.
Tidak ada yang benar-benar bisa menuntun seseorang
yang tidak ingin keluar dari lorongnya.
Dan tidak ada kata-kata yang cukup kuat
untuk memecahkan dinding yang dibangun
dengan pembenaran
dan keengganan untuk melihat diri sendiri apa adanya.
Yang tersisa hanyalah harapan
agar suatu hari ia menemukan pintu,
meski harus merangkak dalam gelap
sendirian
dengan satu-satunya cahaya
yang tersisa dari dalam jiwanya sendiri.
Karena cinta sejati adalah cahaya.
Dan nafsu, betapa pun ia diberi nama…
tetaplah bayangan yang menelan siapa pun yang memeluknya terlalu erat.
Komentar
Posting Komentar