Di Negeri Dua Kutub
Di negeri dua kutub, berdiri dua menara yang sama tinggi, sama bising, dan sama butanya. Yang satu dibangun dari kitab berjilid-jilid, ditopang syarah bersusun tujuh, dengan jendela sempit menghadap langit, tapi lantainya retak, karena tak pernah diinjak rakyat. Mereka menari dengan mantra Arab, bukan untuk dipahami, tapi untuk dipertontonkan. Ilmu jadi asap dupa, wangi tapi tidak mengenyangkan, tinggi tapi tidak mendarat. Yang satu lagi gemar mengasah pedang dalil, mengukur langkah dengan garis tipis hukum, seolah surga itu dokumen teknis yang harus ditandatangani malaikat. Mereka hidup di lorong sempit, tempat “boleh” dan “haram” menjadi pagar besi yang tak boleh disentuh. Keduanya memanggil rakyat kecil yang lapar makna, tapi rakyat itu dipaksa memilih antara labirin ilmu atau jeruji dalil. Di tengah dua menara itu, berdiri seorang musafir. Bajunya biasa, tapi matanya jernih. Ia tak pandai menjerit “sunnah!” atau melantunkan syarah panjang, tapi ia t...