Surat untuk Kawan
Ada masa di mana aku percaya, kita semua tumbuh dalam lingkaran yang sama—berangkat dari tanah pesantren, berbagi gelak tawa di serambi, menanggung lelah hafalan, dan pulang dengan memori yang kadang masih menempel di pakaian. Aku dulu yakin, persahabatan yang ditempa di sana akan tumbuh jadi sesuatu yang tetap, meski kita berjalan ke arah yang berbeda. Namun waktu punya cara yang halus tapi kejam untuk membuka tabir. Ia tidak berteriak, ia hanya menunjukkan siapa yang tetap tinggal dan siapa yang ternyata hanya bayangan di keramaian. Kawan, aku tidak pernah menuntut banyak. Tidak pernah memintamu datang dari jauh untuk acara besar. Yang kuharapkan hanyalah sedikit perhatian dalam bentuk paling sederhana: tatkala aku mengundangmu, engkau hadir; tatkala aku butuhmu, engkau menoleh. Nyatanya, itu terlalu mahal. Aku melihat bagaimana engkau dan yang lain dengan gagah berangkat ke utara, ke selatan, ke barat, ke mana pun demi reuni besar, haul masyayikh , atau pertemuan berlab...