Diary Pesantren : Warnet

Namaku Luthfi Zaennuri
 Tidak banyak teman-temanku di Kota Semarang untuk meneruskan sekolahnya di pondok pesantren, asrama...hidup prihatin...dan mandiri, tempat yang sakral dengan materi pendidikan agama yang lebih banyak, dari sekolah umum di kota ku, sejujurnya alasan aku melanjutkan disana untuk menghindari bullying, dari sekolah umum di kota ku saat itu, akhirnya aku berhasil diterima disana, di pondok pesantren Futuhiyah Mranggen, pada tahun 2010.
Meski aku hidup di kota, aku termasuk anak dengan keluarga berkecukupan, saat anak-anak lain selalu dituruti dengan alat hiburan seperti internet, handphone dan mainan lainnya. Saat aku kecil dulu, adalah tabu, mengenal Play Station, Facebook, juga Warnet...

Maka saat di pesantren pun, masih jadi hal tabu, apalagi lingkungan pesantren juga...

Namun..saat hari pertama aku masuk sekolah ( saat itu sekolah menengah pertama ) satu momen saat materi pelajaran praktek komputer, saat itulah, aku yang tak pernah memegang alat semacam itu, hanya terpaku di ruang praktek komputer, semua instruksi dari guru tak ada satupun yang aku mengerti, akhirnya rasa malu pun menelanku habis...

Sepulang sekolah, aku punya motivasi baru, mulai besok...aku harus rajin..rajin ke WARNET ( Internet Cafe ), meski lingkungan pesantren, supaya membalas rasa malu ku, aku mau belajar...

Jadi, rutin sepulang sekolah sampai petang jam 4 sore, disana minat ku pada komputer semakin besar, aku belajar banyak hal, hingga sekarang jadi mata pencaharian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Virus Mining Kripto 'XMRIG', Ketika PC-ku Dipanen Diam-diam

BLOGGER 2025

Wasiat Terakhir untuk NU: Sebelum Tenggelam oleh Euforianya Sendiri